JEREZ — Pembalap muda kebanggaan Indonesia, Veda Ega Pratama, sukses menyuguhkan aksi balap yang memukau pada seri Moto3 GP Spanyol 2026 di Sirkuit Jerez, Minggu (26/4/2026). Memulai balapan dari baris belakang, tepatnya posisi ke-17, rider andalan Honda Team Asia ini berhasil merangsek naik 11 tingkat hingga menyentuh garis finis di urutan keenam.
Namun, di balik aksi comeback sensasional tersebut, terselip penyesalan mendalam terkait hasil kualifikasi yang memaksanya harus berjuang ekstra keras dari baris keenam.

Harga Mahal Sebuah Kesalahan Kualifikasi
Sesi kualifikasi yang berlangsung pada hari Sabtu menjadi titik kelemahan Veda di akhir pekan Jerez. Sempat tampil impresif dengan mencetak waktu tercepat di awal sesi, Veda harus menelan pil pahit terlempar ke urutan 17 untuk starting grid setelah mengalami crash dan terjebak strategi kualifikasi yang kurang optimal.
Posisi start ini jelas menjadi kerugian besar. Veda menyadari bahwa kecepatan motornya (race pace) sebenarnya sangat mumpuni untuk bersaing di barisan terdepan bersama Maximo Quiles (pemenang balapan), Adrian Fernandez, dan David Munoz yang mengamankan podium. Sayangnya, jarak waktu lebih dari 9 detik dari grup pemimpin balapan sudah terlalu jauh untuk dikejar, mengingat Veda harus berjibaku melewati kemacetan belasan pembalap di mid-pack pada paruh pertama lomba.
“Masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Jika saja kami bisa memulai balapan dari posisi yang lebih baik di front row atau baris kedua, kami punya kecepatan untuk bertarung di grup depan,” sesal Veda yang sadar betul bahwa start dari baris belakang mengubur peluangnya untuk meraih podium.
Aksi Comeback yang Membungkam Keraguan
Meski dihadapkan pada rintangan grid belakang, pembalap berusia 17 tahun ini menolak menyerah. Sejak lampu start padam, agresivitas Veda langsung terlihat. Berikut adalah rangkuman perjalanan epiknya selama 19 lap di Sirkuit Jerez:
Lap 1–5: Start impresif membuat Veda langsung melesat ke posisi 14 di lap pertama dan sukses menembus 10 besar hanya dalam beberapa putaran awal.

Lap 10–13: Veda terus merangsek naik dari posisi 9, menyalip pembalap berpengalaman seperti Marco Morelli, hingga menduduki posisi ke-6 pada lap ke-13.
Lap 15: Mengambil alih pimpinan di rombongan kedua dan sempat menduduki posisi ke-5 secara provisional.
Manajer Honda Team Asia, Hiroshi Aoyama, bahkan memberikan pujian khusus atas mentalitas baja dan manajemen balapan apik yang ditunjukkan anak asuhnya tersebut.
Taruhan Strategi Ban dan Kendala Lap TerakhirSelain mental bertarung, Veda juga mengambil langkah berani soal pemilihan ban. Saat mayoritas pembalap grid menggunakan kombinasi ban Pirelli slick berkompon keras SC2-SC2 (depan-belakang), Veda memilih kombinasi SC2-SC1 (belakang lebih lunak).
Strategi ini sangat jitu memberikannya cengkeraman ekstra untuk melakukan rentetan overtake agresif di awal balapan. Namun, pisau bermata dua ini mulai terasa di pengujung lomba. Memasuki fase akhir balapan, Veda mulai menghadapi tantangan degradasi ban belakang yang cukup drastis.
“Di bagian akhir, saya mulai merasakan penurunan performa ban belakang, sehingga sulit untuk mempertahankan kecepatan yang sama,” jelasnya.
Akibatnya, pada lap terakhir, Veda kesulitan menahan laju pembalap Red Bull KTM Ajo, Alvaro Carpe, dan terpaksa merelakan posisi kelimanya lepas sesaat sebelum menyentuh garis finis.
Dengan status sebagai salah satu rookie paling menonjol musim ini, Veda bertekad membawa momentum race pace yang kuat ini dan memperbaiki performa kualifikasinya pada seri ketiga Moto3 2026 yang akan digelar di Sirkuit Bugatti, Le Mans, Prancis pada 8-10 Mei 2026 mendatang.
“Saya mengambil semua pelajaran dari akhir pekan ini dan sudah menantikan Le Mans,” tutup Veda penuh optimisme.



