Site icon indonesiainsight.com

Dari Puasa 20 Jam hingga Tradisi Unik di Berbagai Negara

Indonesianinsight –Bulan Februari 2026 menjadi saksi kembalinya bulan suci Ramadhan yang dinanti jutaan umat Muslim di seluruh dunia. Tradisi Ramadhan Unik di Dunia menunjukkan betapa beragamnya cara umat Muslim menjalani bulan penuh berkah ini. Meski dipersatukan oleh niat ibadah yang sama, kenyataannya setiap Muslim menjalani hari-hari puasa dengan tantangan dan keindahan yang berbeda. Ada yang harus menahan lapar di bawah cuaca dingin kutub dengan waktu siang yang sangat panjang, namun ada pula yang merayakannya dengan festival lampu dan kumpul keluarga yang hangat. Ramadhan benar-benar memperlihatkan betapa beragamnya dunia kita saat ini.

Secara ilmiah, perbedaan waktu puasa ini terjadi karena posisi bumi terhadap matahari. Karena Ramadhan 2026 jatuh di bulan Februari, negara-negara di belahan bumi utara mengalami waktu siang yang lebih panjang dibandingkan wilayah khatulistiwa. Inilah alasan mengapa durasi puasa tidak pernah sama di setiap tempat. Di sisi lain, tradisi yang kita lihat sekarang adalah hasil akulturasi budaya selama berabad-abad. Agama Islam masuk ke berbagai negara dan melebur dengan kearifan lokal, menciptakan kebiasaan unik yang hanya bisa kita temui setahun sekali.

Dampak dari keramaian Ramadhan ini pun terasa hingga ke sektor ekonomi dan kebijakan antarnegara. Di Indonesia, tradisi Mudik bukan sekadar pulang kampung, melainkan mesin penggerak ekonomi yang luar biasa bagi daerah-daerah kecil. Secara global, fenomena puasa dengan durasi ekstrem (seperti di Eropa Utara) mulai memicu dialog tentang hak-hak pekerja Muslim. Banyak perusahaan internasional kini lebih fleksibel dalam mengatur jam kerja selama bulan suci, yang menunjukkan adanya rasa saling menghormati di tengah masyarakat dunia yang semakin terbuka.

Dalam menyambut bulan suci ini, banyak pemimpin dunia menyuarakan pesan perdamaian. Sekretaris Jenderal PBB sering menekankan bahwa Ramadhan adalah momen global untuk menunjukkan solidaritas. “Ramadhan mengajarkan kita untuk peduli pada mereka yang kesulitan. Ini adalah waktu bagi dunia untuk berhenti sejenak dari konflik dan fokus pada kemanusiaan,” ungkapnya dalam berbagai kesempatan menyambut hari besar keagamaan.

EKSPLORASI TRADISI DUNIA

​1. Tantangan Waktu di Belahan Utara

Bayangkan harus berpuasa selama 20 jam! Itulah yang dirasakan umat Muslim di Edmonton, Kanada. Dengan waktu berbuka dan sahur yang hanya selisih 4 jam, mereka harus pintar-pintar membagi waktu antara makan, istirahat, dan sholat Tarawih. Di Eropa, kota-kota seperti Reykjavik di Islandia dan Nuuk di Greenland juga mencatat waktu puasa sekitar 16 jam. Sebaliknya, wilayah yang dekat khatulistiwa seperti Indonesia memiliki waktu puasa yang lebih stabil, yakni sekitar 13 jam.

​2. Cahaya di Kairo dan Dentuman di Istanbul

Mesir punya cara ikonik menyambut Ramadhan dengan lampu Fanus. Seluruh sudut kota Kairo akan berubah menjadi lautan cahaya lentera warna-warni. Sementara di Istanbul, Turki, suasana terasa sangat klasik dengan tradisi penabuh genderang yang berkeliling membangunkan warga untuk sahur. Bahkan, di sana masih ada tradisi menembakkan meriam sebagai tanda waktu berbuka, sebuah kebiasaan lama yang tetap dijaga kelestariannya.

​3. Kuliner Unik: Dari Dorayaki hingga Takjil Jakarta

Di Jepang, komunitas Muslim biasanya berbuka dengan Dorayaki, kue manis favorit yang memberikan energi instan. Tak jauh beda dengan Indonesia yang memiliki “pasar takjil” dadakan di setiap sudut jalan. Fenomena Ngabuburit atau menunggu waktu berbuka dengan mencari gorengan adalah tradisi yang paling dirindukan dan selalu berhasil menghidupkan suasana kota.

​4. Spiritualitas di Kota Suci dan Kemewahan Dubai

Mekah tetap menjadi pusat gravitasi spiritual. Di bawah cahaya lampu Masjidil Haram yang tak pernah padam, jutaan orang berbagi makanan gratis tanpa melihat status sosial. Di sisi lain, Dubai menawarkan sisi modernitas dengan menyajikan hidangan Iftar yang megah di hotel-hotel bintang lima, namun tetap dibarengi dengan kampanye sosial untuk membantu pekerja migran dan masyarakat kurang mampu.

Ramadhan 2026 kembali mengingatkan kita bahwa meskipun dunia terpisah oleh jarak ribuan kilometer dan perbedaan waktu siang-malam yang mencolok, esensi puasa tetaplah sama: sebuah perjalanan menuju kesabaran dan kepedulian. Keberagaman tradisi yang kita lihat—mulai dari permen untuk anak-anak di Qatar hingga sahur bersama di jalanan Kairo—adalah bukti bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan kekayaan yang membuat peradaban manusia menjadi lebih indah.

Exit mobile version