
INDONESIANINSIGHT – Di bawah langit Doha yang membiaskan cahaya keemasan di atas lintasan Lusail International Circuit, sebuah narasi tentang kecerdasan manusia dan determinasi lingkungan sedang dituliskan. Tim Semar UGM, delegasi intelektual muda dari Universitas Gadjah Mada, kembali memijakkan kaki di Qatar untuk berlaga dalam ajang bergengsi Shell Eco-Marathon Asia Pacific and the Middle East 2026.
Perhelatan yang berlangsung pada 21–25 Januari 2026 ini bukan sekadar kompetisi kecepatan, melainkan sebuah panggung pameran peradaban di mana kendaraan hemat energi menjadi simbol perlawanan terhadap krisis sumber daya global.
Sejarah mencatat bahwa ketergantungan manusia pada bahan bakar fosil telah membawa bumi ke ambang ketidakpastian iklim. Dalam konteks inilah, Shell Eco-Marathon lahir sebagai oase riset yang menantang batas-batas termodinamika dan aerodinamika.
Di tengah tuntutan global untuk menekan emisi karbon sesuai dengan kesepakatan internasional, inovasi pada sektor transportasi menjadi kunci krusial. Semar UGM, dengan bekal Juara 2 kategori Urban Listrik dan Juara 3 kategori Prototype Listrik pada tahun sebelumnya, hadir sebagai manifestasi dari upaya panjang akademisi Indonesia dalam menjawab tantangan dekarbonisasi dunia.
Partisipasi Indonesia dalam ajang di Qatar ini memiliki signifikansi geopolitik yang mendalam, terutama dalam memperkuat posisi Indonesia di peta STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) internasional. Kehadiran Semar Urban Hydroz 1.2 yang berbasis hidrogen dan Semar Proto 4.0 yang bertenaga listrik menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen inovasi.
Keberhasilan ini mengirimkan sinyal kuat kepada komunitas global bahwa kekuatan ekonomi baru di Asia Tenggara memiliki kapasitas sumber daya manusia yang siap memimpin transisi energi hijau, sekaligus mempererat hubungan diplomasi teknokratik dengan negara-negara di Timur Tengah.
Muhammad Ghani Prayatna, General Manager Tim Semar UGM, menegaskan bahwa misi tahun ini adalah melampaui batas pencapaian masa lalu. “Tahun ini kami kembali datang ke Qatar dengan semangat dan ambisi yang lebih besar, baik dari sisi teknologi maupun hasil lomba,” ungkapnya pada Rabu (21/1).
Semangat ini sejalan dengan visi global yang sering digaungkan oleh badan lingkungan PBB mengenai pentingnya keterlibatan pemuda dalam merancang teknologi masa depan yang berkelanjutan (sustainable technology). Dengan disiplin tinggi, tim ini bertekad membuktikan bahwa efisiensi ekstrem adalah solusi nyata bagi mobilitas masa depan.
Pada akhirnya, deru halus mesin bertenaga hidrogen dan listrik di lintasan Lusail adalah nyanyian harapan bagi bumi yang kian menua. Inovasi yang dibawa oleh putra-putri bangsa ini mengingatkan kita bahwa teknologi bukanlah musuh alam, melainkan jembatan untuk kembali hidup selaras dengannya.
Di padang pasir Doha, Semar UGM tidak hanya mengejar garis finis, tetapi sedang meretas jalan menuju masa depan dunia yang lebih bersih, lebih cerdas, dan lebih manusiawi.
