
INDONESIANINSIGHT – Dunia kembali terperangah dalam ketidakpastian saat ambisi geopolitik bersinggungan tajam dengan mekanisme pasar global. Pada Rabu (21/1/2026), stabilitas ekonomi internasional seolah berada di tepi jurang menyusul retorika agresif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait klaim wilayah Greenland.
Ancaman tarif yang dilontarkan Gedung Putih tidak hanya meruntuhkan indeks saham di lantai bursa Asia hingga Wall Street, namun juga memicu eksodus massal investor menuju safe haven, yang membawa harga emas menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah peradaban modern.
Ketegangan ini berakar dari keinginan lama Amerika Serikat untuk menguasai Greenland, sebuah wilayah otonom Denmark yang menyimpan kekayaan mineral langka dan posisi strategis di kutub utara. Isu ini merupakan residu ambisi masa lalu yang kini bangkit dengan intensitas yang lebih destruktif.
Melalui visi “keamanan nasional,” Washington berupaya mengintegrasikan wilayah tersebut ke dalam orbit kekuasaannya, sebuah langkah yang dianggap oleh banyak pakar hukum internasional sebagai anomali dalam tata krama diplomasi abad ke-21.
Penolakan dari pihak Denmark dan Uni Eropa inilah yang kemudian memicu respons proteksionisme ekstrem melalui instrumen tarif perdagangan.
Dampak dari eskalasi ini menciptakan efek domino yang melumpuhkan. Di Asia, indeks Nikkei dan Kospi terkoreksi tajam, mencerminkan kerentanan kawasan ini terhadap perang dagang transatlantik.
Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, penguatan harga emas hingga level US$4.813 per ounce memberikan tekanan ganda, di satu sisi meningkatkan nilai cadangan devisa namun di sisi lain memperlemah nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian global (risk-off sentiment).
Jika tarif hingga 200% terhadap komoditas Eropa diberlakukan, rantai pasok global akan mengalami disrupsi fatal yang berpotensi melahirkan inflasi ekstrem di berbagai belahan dunia.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron, merespons dengan nada tegas, menyatakan bahwa intimidasi ekonomi ini “sama sekali tidak dapat diterima” oleh kedaulatan Uni Eropa. Perancis kini memimpin gerakan untuk mengaktifkan Anti-Coercion Instrument sebagai perisai ekonomi blok tersebut.
Di sisi lain, menanggapi kritik terhadap Inggris atas Kepulauan Chagos, Trump menyebut kebijakan London sebagai “tindakan kebodohan besar,” sebuah pernyataan yang semakin memperlebar jurang komunikasi antara Washington dan sekutu tradisionalnya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Pada akhirnya, gejolak pasar ini hanyalah cermin dari wajah dunia yang kian terfragmentasi. Ketika diplomasi berganti menjadi transaksi dan kerja sama berubah menjadi koersi, stabilitas global menjadi harga yang harus dibayar mahal.
Masa depan kini bergantung pada apakah para pemimpin dunia akan memilih jalan dialog atau membiarkan ego teritorial meruntuhkan tatanan ekonomi yang telah dibangun selama puluhan tahun. Di tengah badai ini, emas bersinar bukan karena kemakmuran, melainkan sebagai monumen ketakutan manusia akan hari esok yang tak menentu.
